http://bodiesthatwork.com/cms/wp-content/uploads/2013/04/ending_beginning.jpg
Niat gue sih tiap bulan ngepost se ga nya satu postingan di blog.
Tapi apalah daya, Agustus sukses lewat tanpa satupun postingan. Sebagai
gantinya di awal September yang terkenal “ceria” ini gue ngeposting hal absurd
yang ada di dalam benak gue akhir-akhir ini. Sebuah Ending.
Udah jadi suatu hukum takdir, kalo ada pertemuan pasti ada yang
namanya perpisahan, kalo ada kelahiran pasti ada kematian, kalo ada awal pasti
ada akhir, kalo ada orang baik pasti ada orang jahat, kalo ada seneng pasti ada
sedih, kalo ada prolog jelas ada epilog, kalo ada Lo pasti ada Gue *Eaaakkkk.
Setiap cerita novel atau teenlit yang gue baca punya yang namanya epilog/ending.
Walaupun di beberapa cerita kadang-kadang ga secara khusus di buat suatu
halaman bab judul prolog dan epilog, yang pasti di setiap cerita itu pasti ada.
Baik ceritanya horror, romantisme picisan, detektif, misteri, apa aja deh.
Secara ga sadar, sebenarnya manusia itu seorang penulis. Penulis
yang membuat skenario jalan cerita hidupnya sendiri, penulis yang berhak
merevisi ceritanya ke depan, baik itu mengganti, menghapus, mempertahankan
tokoh utamanya, jalan ceritanya, ataupun menutup ceritanya dan memulai cerita
yang baru. Kenapa gue bilang ke depan? Karena kalo ke belakang ada tembok.
Mentok dong ya, lain cerita kalo lo bisa nembus tembok. Waktu ga pernah dan akan berjalan mundur. Tulisan yang udah lo buat
dan udah di lewatin waktu itu udah berubah jadi yang namanya takdir. Takdir ga
bisa dirubah dengan mengembalikan waktu.
Kalo waktu bisa di kembaliin, di dunia ini ga aka nada yang namanya kata
“penyesalan”. Ngomong-ngomong soal skenario, maksud gue bukan skenario drama
yang kayak di TV-TV, kalo skenario yang itu terlalu. Lo tahu kan maksud gue,
lebay.
Jelas gue juga termasuk penulis. Penulis cerita hidup gue sendiri.
Dan ga ada ceritanya seorang penulis ga ada kendala, ga ada
galau-galaunya, ga ada senengnya, ga ada sedihnya, ga ada konyolnya. Butuh
inspirasi yang menyegarkan otak, pikiran dan perasaan. Kadang – kadang
inspirasi juga datang di waktu yang tak terduga. Nah masalahnya apa?
Sekarang ini gue sedang berada di titik mandek. Mundur ke belakang
merevisi cerita gue ga mungkin. Maju ke depan bisa tapi rada macet gitu,
lambat. Harusnya gue lewat jalan tol ya. Sebenernya gue udah nyiapin planning berbagi alternatif cerita dan
goal yang ingin gue capai dan yang mesti gue capai.
Tapi di beberapa part cerita hidup gue ada yang ga bisa gue ganti
atau gue revisi. Kayak udah ke locked
gitu. Yang udah ke locked ini yang
mesti sabar gue tungguin dan butuh ektra kesabaran dan usaha. Masalah lain
seberapa sabar dan tahan gue buat sampe ke titik yang gue inginkan itu?
Sebenarnya manusia bisa mencoba menerka ending dari setiap skenario cerita yang dijalani. Ya, gue juga
mencoba. Tapi karena gue ga ada sixsense dan bukan cenayang, jadilah gue lebih
banyak galau.
Menurut gue Ending dari sebuah cerita itu cuma dua, Happy Ending atau Sad Ending. Kalo cerita yang endingnya ngegantung itu ibarat warna
abu-abu yang berada di antara hitam dan putih. Ga jelas. Kayaknya ga ada ada
deh manusia yang mau ending hidupnya ngegantung ga jelas, termasuk juga gue. Dan
sekarang apa yang gue lakuin? Berusaha dan berdoa kepada sang pemegang waktu Allah SWT, agar
setiap doa-doa yang gue tuliskan dalam skenario
menjadi sebuah cerita yang berakhir Happy
Ending. :)
Rie Chan

No comments :
Post a Comment